SAAT ORANG-ORANG MENGENANG TERORIS

May 20, 2018

Aku dan orang-orang tak mengenalmu, tapi kami mengenangmu…


Detik-detik ketika bom itu meledak, orang-orang mulai berhamburan seperti serpihan kertas di atas meja. Tampak pada raut wajah mereka ada ketakutan, kesedihan, dan seribu tanya yang menyelimuti. Mengapa tiba-tiba ada bom bunuh diri? Apa salah kami? Bahkan tak sedikit yang tiba-tiba menangis sembari mencari sanak saudara mereka. Matahari tak lagi terhiraukan keberadaannya. Sinarnya terkalahkan oleh sisa-sisa ledakan bom yang telah menghancurkan sebagain besar pusat kota. Bahkan, belum usai perasaan-perasaan takut dan sedih, telah disusul oleh ledakan bom berikutnya di sudut lainnya.



Banyak dari mereka kehilangan yang dicintainya, padahal sebelumnya, mereka tertawa riang gembira melewati waktu bersama. Banyak dari mereka yang pada akhirnya takut dan bahkan sebagian besar anak-anak menjadi trauma.


Apakah bagimu itu Jihad? Membuat orang-orang takut, menangis, trauma, bahkan tak lagi percaya pada orang-orang di sekitarnya--khususnya, mereka yang berjilbab, bercadar, maupun memanjangkan jenggot atau bercelana cingkrang.


Jujur, aku tak banyak tahu tentang Islam, meski aku termasuk satu di antaranya. Tapi, yang aku tahu, Islam mengajarkan keindahan. Bahkan tanpa aku mencari tahu tentang Islam, aku menemukan banyak keindahan yang datang dari Islam. Mulai dari saling tolong menolong tanpa melihat siapa yang ditolong dan menolong, tidak ada kekerasan, sampai benar-benar menghargai serta menghormati wanita.


Lantas, apa yang ingin kau dapatkan setelah meledakkan dirimu bersama bom? Bagaimana kami bisa tahu keinginanmu, ketika kamu telah hancur berkeping-keping.


Tidakkah kamu merasa ternodai, kamu juga membunuh sebagian dari teman-teman, saudara-saudara, guru, bahkan orang tua kami kami? Mereka, orang-orang yang tidak tahu apa-apa, pada akhirnya pergi meninggalkan kami dengan keadaan yang benar-benar tak pernah kami bayangkan sebelumnya.


Dan betapa jauh berbeda yang aku lihat. Kamu bahkan tega memasang bom di tubuh anak-anakmu. Anak-anak yang seharusnya masih menikmati waktu mereka dengan belajar dan bermain bersama teman-temannya. Anak-anak yang seharusnya masih menggapai cita-cita mereka di masa depan. Padahal, yang aku tahu, Islam itu penuh dengan kelembutan dan keindahan dalam merawat anak-anak.


Namun, apa yang kamu lakukan telah memberi dampak buruk pada anak-anak lain yang tadinya tampak ceria, berani, dan penuh percaya diri menatap masa depan mereka. Ya, mereka kini trauma. Tak tahukah kamu, luka batin lebih menyakitkan dari pada sekedar luka fisik.


Jangankan anak-anak, aku yang sudah sedewasa ini pun kini takut. Takut melihat orang-orang yang berpakaian sepertimu juga teroris, padahal belum tentu mereka teroris. Semoga. Semoga mereka bukan teroris dan semoga tidak ada lagi teroris di negeriku yang kucinta. Semoga Pancasila tak sekedar kata-kata, semoga ia benar-benar ada di hati kita.


Hey Teroris,
Hidup itu berbagi, termasuk berbagi bumi ini
walau kita berada di bawah atap yang beda.
Apa yang kamu harapkan dari kami untuk mengenangmu?
Tidak ada, selain kamu menjadi kenangan buruk kami yang tak akan kami lupakan.
Siapa kalian? Berani sekali menghancurkan hidup kami.
Siapa kalian? Berani sekali datang menjadi kenangan terburuk kami

Terbit juga di TUMBLR: einidshandy

You Might Also Like

6 comments

  1. Tulisan yang bagus memancarkan perasaan penulisnya

    ReplyDelete
  2. Tulisan yang menarik. Pikiran seorang teroris yang sudah tersusupi ideologi garis keras atau sudah di brainwashing mungkin hanya ada hitam dan putih, kalau pun benar mereka berjuang untuk Islam dengan menghancurkan musuh dan sekutu-sekutunya yang mereka anggap sudah membuat Dunia Islam menjadi penuh konflik, mereka sudah melakukan cara yang salah dengan melakukan pemboman bunuh diri di tempat2 publik yang notabene juga ada muslimnya apalagi melibatkan anak-anak mereka, yang korbannya tidak pandang bulu, membabibuta, miris sekali. Bahkan mungkin saja para teroris yg melakukan itu juga korban dari brainwashing oleh oknum-oknum tertentu yang memang ingin menggunakan mereka sebagai alat tujuan untuk menciptakan situasi-situasi seperti itu. Karena secara normalnya gak mungkin ada orang yang mengorbankan keluarganya jg utk melakukan tindakan keji begitu kecuali sakit jiwa. Lagian apa untungnya ngelakuin hal yang justru membuat Islam dicap sebagai agama teroris, menjelek-jelekkan agama sendiri jadinya. Bom bunuh diri atau apapun namanya itu dengan mengatasnamakan jihad seharusnya dilakukan ketika terjadi perang mempertahankan marwah agama atau negara, membela kebenaran dan menghancurkan kebatilan, dan sasarannya pun bukan orang2 sipil tapi tentara-tentara atau objek2 vital militer atau orang-orang jahat bersenjata. Yang pasti saya pun geram dengan ulah para teroris yg melakukan bom bunuh diri atau menyerang saudara muslimnya sendiri itu, itu bukan jihad karena jihad ada aturan mainnya, mereka bukan jihad tapi mereka orang jahat, dan mereka tidak pantas disebut teroris (terkesan hebat kalau lihat di film-film) tapi sekumpulan orang pengecut bersenjata yg lebih memilih mati utk membunuh musuhnya daripada berjuang di medan laga pertempuran. Semoga para pembom bunuh diri itu di Indonesia pada insyaf, bertaubat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kurang lebih begitulah pikiran saya Kak. Kenapa membunuh diri sendiri atau merelakan keluarganya. Saya berpikir, mungkin mereka terpaksa melakukannya karena terlanjur masuk di dalamnya dan entah apa konsekuensinya yang membuat mereka tidak memiliki pilihan lainnya.

      Delete
  3. Mulai dari saling tolong menolong tanpa melihat siapa yang ditolong dan menolong, tidak ada kekerasan, sampai benar-benar menghargai serta menghormati wanita.

    Pemikiran di atas sangat langka, dari ekslusifisme dan polygame semakin menjadi tambh bnyk

    ReplyDelete
  4. kadang kata2 lebih kejam dari perbuatan,, nice postingan,,

    mampir juga akktif.blogspot.com

    ReplyDelete

Berjejaklah ketika berpetualang di sini.

TERIMA KASIH sudah membacaku dan telah berjejak di kolom ini.

Partner Dunia

1minggu1cerita

Dunia, Kamu READERS ke

Followers